Skip to main content

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

 

Begitulah.

Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!).

Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan.

Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat. Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi bikin blog, Yayuk mengajukan diri mengeksekusi. Dia benar-benar melakukan apa yang saya bayangkan akan saya lakukan. Tapi, rasanya, mau memanjat obrolan masa lalu tentang kumpulan ide nama blog yang dulu itu kok sudah malas sekali. 

Saya pun usul saja blog ini dinamai sesuai apa yang saat itu terlintas di pikiran: “Tinimbang Sambat”. Tagline-nya “aluwung nulis”. Anggap saja ini semacam wangsit yang disetujui secara aklamasi, karena yaa...gimana lagi. Kecepatan Yayuk mengeksekusi secepat kilat membuat saya takjub. Dia benar-benar seperti panggilan singkatnya yang maunya cepet-cepetYuk!— 

Blog ini lahir terinspirasi oleh serangkaian sambatan, sanggahan, dan komentar yang acak di dalam ruang percakapan digital. Mendokumentasikan semua itu di sini tampaknya bakal ada gunanya, meskipun ya entah apa, hahahaaa 😂

Buat saya pribadi, blog ini seperti judulnya. Tinimbang sambat, aluwung nulis. Daripada mengeluh, lebih baik menulis. Saya percaya, menulis akan membantu kita menata ulang isi kepala. Alasan untuk sambat selalu ada dan “mudah” ditemukan. Mengkonversinya dalam tulisan akan memaksa otak kita bekerja. Kita jadi berpikir, bertanya, memaknai ulang, mengurutkan, memilih, dan mengekspresikan. Menulis tidak menyelesaikan masalah, tetapi berpikir dengan baik adalah awal dari terbitnya solusi yang solutif (*eeaaak, nggableh tenan)

Dan blog ini mudah-mudahan jadi langkah awalnya.

Tabik.

-SD

Comments

Popular posts from this blog

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik. Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!” , “Kayak hidup lo udah bener aja.” , atau “Tunjukin dulu lo sempurna!” . Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat,...

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya,  "Nasihat Bersyarat"  yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca? Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya . Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:   jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti. Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu ba...