Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2020

How Much do You Hate Smoke(r)?

  For me, quite a lot . Kata orang, kalau kita tidak suka sesuatu; bencilah tindakannya, bukan orang yang melakukannya. Memang benar begitu seharusnya. Tapi soal merokok dan perokok ini gimana yaa; they are inseparable .  Udah sejak dulu ku nggak suka dengan rokok dan berusaha menghindar dari asap rokok dan orang yang sedang merokok. Inget banget dulu pernah nylentik ( eh, apa pulak itu ya bahasa Indonesianya?) rokok punya teman, gara-gara merokok di dekatku. Nylentik  itu bahasa Jawa, semacam menjentikkan jari telunjuk dan jempol. Gitu lah ya. Nah sejak itu, si teman selalu jauh jauh kalau mau merokok. "Jangan ngerokok deket Wening, nanti diganggu". Gitu katanya. Pernah juga di sebuah angkot, sekitar lima tahun yang lalu, ku pura-pura batuk karena ada yang masuk ke angkot dalam kondisi merokok. Sengaja batuknya dikencengin supaya orangnya sadar bahwa asap rokoknya mengganggu. Daaan, berhasil. Si bapak pun membuang rokoknya. Segitu nggak sukanya memang, sama asap rokok....

Tentang Merasa (harus) Bersaing

Btw, grup chat kami bernama "Club 30", Iya, kami sudah menapaki bumi selama 30 tahun (++) *ternyata.   Dan kesadaran bahwa usia yang tidak lagi muda membuatku sadar bahwa mungkin tua kedewasaaan adalah salah satu alasan kenapa sekarang aku tidak mudah terintimidasi. Baik oleh atasan di tempat kerja, orang tua  atau orang lain yang lebih senior, achievement pribadi, kesuksesan/keberhasilan orang lain, dan banyak hal lain yang ternyata tidak terlalu berpengaruh seiring pendewasaan usia (iya bertumbuh menua).  Tentang bersaing, competition is not really my thing, karena bodoamat dan menjadi cuek adalah jalan ninjaku - bahkan sebelum membaca petuah Mark Manson, maka menghindari segala hal yang berbau kompetisi, lomba dan persaingan dalam segala hal sejak dini adalah pilihan terbijaksana saat itu - sampai sekarang. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan Dina tentu saja, well thats Us. Lelah nggak sih harus memenuhi target untuk lebih (baik) dari orang lain, kenapa kita nggak ...

"Trying to be Nice": Perlukah?

Beberapa bulan belakangan memikirkan ini, dan belum ketemu solusi tepatnya, so I'm just gonna share my thought here. Terkadang kita ketemu dengan orang-orang baru, teman, kolega, atau bahkan saudara baru; entah saudara jauh yang baru kenal, atau memang beneran saudara baru. Di antara mereka ini, pasti ada saatnya kita ketemu dengan sosok yang -berdasarkan feeling- tidak kita sukai.  Atau di situasi yang sebaliknya: berada di satu tempat bukan dengan orang baru, melainkan orang lama, yang sudah kenal sejak lama tapi jarang bertemu. Dan sialnya, sudah sejak kenal kita merasa ga suka dengan orang itu.  Dalam dua situasi di atas, rasanya pengen menghilang atau ber-disapparate; meminjam istilah JK Rowling di novelnya yang terkenal -Harry Potter-. Rasanya nggak pengen terlibat dengan percakapan dengan mereka. Dan kita pun tau, kita nggak punya cukup bahan untuk memanjangkan basa-basi. Can we just shut up and ignore them? Boleh nggak sih, kita bersikap seolah mereka ini tak ada, tanp...

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik. Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!” , “Kayak hidup lo udah bener aja.” , atau “Tunjukin dulu lo sempurna!” . Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat,...

Blog Kedua

Buat apa ada second blog ini, padahal blog pertama aja jarang kau isi, Wen? Well yeah. Bikin blog bareng never crossed my mind; sama halnya dengan beberapa hal yang ngga pernah terlintas di pikiran kalau nggak ngobrol sama Yayuk dan atau Dina. Tapi ya memang itulah benefit dari lingkaran pertemanan kecil dengan mereka. Kami punya kehidupan yang sangat berbeda (I guess?); me as a teacher, Yayuk dengan kehidupannya sebagai budak korporat  karyawan andalan, dan Dina yang seorang EO sekaligus penjual buku. Hasilnya, kami punya pandangan yang berbeda, punya topik berbeda yang bisa diperbincangkan. Dan mereka menghadirkan hal-hal yang -seperti tadi kusebut- kalau nggak ngobrol sama mereka, mungkin nggak akan kepikiran. They are good at giving arguments; and I'm not. Mereka suka berdebat, while I don't. Tapi kalian tau, membaca chat atau dengerin mereka berdebat dengan sesekali memberi tanggapan itu sudah cukup seru buatku. Keren; yes they are. Cerita pertemanan kami jadi topik menari...

Salam Kenal

Berawal dari wacana, yang akhirnya terlaksana. Selamat datang, selamat anda telah menemukan kami. Salam kenal dan terimakasih sudah mampir.  Rasanya akan lebih elok kalau kami memulai record perjalanan ini dengan perkenalan (versiku tentu saja) biarkan Wening dan Dina memulai tulisan pertama dengan versi mereka masing-masing. Berapa lama kami saling mengenal? jika dilihat dari usia kami saat lulus SMP pada tahun 2003 maka lebih dari setengah umur kami sekarang kami sudah saling mengenal. Perkara bersahabat nanti kapan-kapan kita bicarakan pada topik persahabatan, tidak sekarang. Mereka adalah salah dua dari small innercircle yang kumiliki, entah karena terpaksa atau memang terkutuk untuk menjadi salah dua teman terdekat. Dari SMP- SMA- Kuliah hingga menjadi lajang ibukota, yang nggak kubayangkan sebelumnya ternyata teman ternyamanku adalah mereka yang jaraknya ribuan kilo,yang curhat onlen dan ketemu saja jarang, satu tahun sekali ketika mudik-itupun kalo sempet. Serunya kami punya...

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

  Begitulah. Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis ...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!). Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan. Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat . Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi...