Btw, grup chat kami bernama "Club 30", Iya, kami sudah menapaki bumi selama 30 tahun (++) *ternyata.
Dan kesadaran bahwa usia yang tidak lagi muda membuatku sadar bahwa mungkin tuakedewasaaan adalah salah satu alasan kenapa sekarang aku tidak mudah terintimidasi. Baik oleh atasan di tempat kerja, orang tua atau orang lain yang lebih senior, achievement pribadi, kesuksesan/keberhasilan orang lain, dan banyak hal lain yang ternyata tidak terlalu berpengaruh seiring pendewasaan usia (iya bertumbuh menua).
Tentang bersaing, competition is not really my thing, karena bodoamat dan menjadi cuek adalah jalan ninjaku - bahkan sebelum membaca petuah Mark Manson, maka menghindari segala hal yang berbau kompetisi, lomba dan persaingan dalam segala hal sejak dini adalah pilihan terbijaksana saat itu - sampai sekarang. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan Dina tentu saja, well thats Us. Lelah nggak sih harus memenuhi target untuk lebih (baik) dari orang lain, kenapa kita nggak jadi baik-baik saja bersama, nggak harus ada yang merasa buruk karena kalah atau bahagia setelah menang.
Back then, kesadaran diri bahwa aku bisa masuk ke SMP, SMA & Univ favorit adalah murni keberuntungan semata, maka survival sesungguhnya ketika berada di sana adalah untuk menjadi tidak bodoh bukan menjadi yang terpandai. Bagaimana bertahan hidup diantara intimidasi manusia-manusia yang memiliki life goals dan cita-cita tinggi, mereka yang memiliki sumber daya dan fasilitas yang lebih baik dan bukan sesuatu yang bisa disaingi saat itu. Well, if life is about survival in anyway we can, maka cara bertahanku adalah dengan tidak menjadi bagian yang memperebutkan posisi atas. Thats how i'm securing my position up to now.
Tetapi kenyataannya dalam kehidupan sosial tuntutan terlibat dalam banyak kesempatan bersaing harus tetap dijalani, tidak ada pilihan menghindar atau mengalah sajalah. Apalagi status sosial sebagai budak korporat dimana kamu layaknya tentara berpangkat rendah yang hanya mengenal kata siap ketika komandan menugaskan berperang. Maka kompetisi antar divisi, persaingan demi gengsi dan banyak pertandingan lain, yang nyatanya bukan kamu yang bisa putuskan untuk terlibat atau tidak. Effort untuk harus menjadi lebih baik dari orang lain yang ternyata adalah orang-orang terbaik di bidangnya benar-benar melelahkan. Kadang suka mikir buat apa bertanding yang bukan perangku, do we really need to feel better by winning a competition over something with someone? nope.
Tapi kalau ada alasan nominal & pride kita tahu akan dicap seperti apa orang yang lari dari sebuah pertandingan and as we know social judgment is a cruel thing. Sebagai orang yang bahkan mundur untuk bersaing dalam hal cinta, rasanya agak sulit untuk memotivasi diri bersaing demi merasa lebih baik dari orang lain.
Mungkin karena kesadaran diri bahwa cukup aku tahu aku nggak bodoh dan nggak butuh pengakuan orang lain, atau karena sudah cukup tuadewasa dan lebih bijaksana untuk tahu bahwa bersaing dan terintimidasi atas keberhasilan orang lain bukan suatu hal yang signifikan dalam pencapaian pribadi.
Dan kita tidak sedang membicarakan pertandingan/kompetisi semacam liga champion ya.
-Yyk-
Bogor, 13 Oktober 2020
Comments
Kalau aku, memang karena itu sekolah (((terbaik))) yang kutahu.