Dua tulisan ini sebetulnya satu
kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file
Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal
tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru
setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga
jelas juntrungnya. Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan
tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa: jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?”
mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing
Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan
sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik
lagi suatu saat nanti.
Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu baik?”
Nyatanya, tidak semua orang suka
dinasihati atau mendengarkan nasihat. Kita sebagai sang penasihat bisa saja
menuduh mereka-mereka yang ogah dinasihati sebagai orang sombong-tak tahu diri-cuek
dan keras hati (baca dalam satu nafas, dan rasakan emosinya) π
Tapi…masa begitu? Masa sebagai
orang yang bisa menasihati orang lain, kita hanya berakhir dengan memaki dan
melabeli mereka-mereka yang tidak manut sama nasihat kita? Ayolah, kita bisa
lebih dari itu...π. Gimana kalau kita endapkan dulu rasa kesal ini, dan
pikirkan ulang baik-baik?
Alih-alih bertanya mengapa
orang lain tidak menuruti kita, mengapa orang lain tidak mendengarkan
kita, mengapa orang lain mengabaikan nasihat kita, mungkin sebaiknya
kita mulai membalik pertanyaannya. Jika yang kita katakan itu
sebuah kebaikan, kenapa kita gagal membuat orang tertarik
untuk mengikutinya? Jika yang kita nasihatkan adalah demi kebaikan orang itu, mengapa
kita tidak mampu membuat orang itu sudi melakukannya demi kebaikannya
sendiri?
Mungkinkan kita kurang ilmu? Sebab
di antara banyak faktor kegagalan, kekurangan ilmu adalah koentji!
Bayangkan! Lha wong ‘cuma’
mengajak orang untuk mau beli pilus aja lho, ajakannya dikerjakan serius
sama sebuah tim marketing communication yang profesional. Kadang-kadang sampai perlu tambahan
visual yang mengundang selera. Njuk mosok mengajak orang jadi lebih baik, dan
bersedia melakukan hal-hal baik, kita lakuin asal-asalan saja? Padahal sebiji sawi kebaikan
seseorang jelas lebih mulia ketimbang bertruk-truk pilus sepabrik-pabriknya.
Menasihati, bagaimana pun juga
adalah aktivitas komunikasi persuasi. Sama-lah dengan marketing. Tujuannya mengajak
orang lain melakukan tindakan yang kita inginkan. Seorang marketer ingin
produknya dibeli, dipuji, dibanggakan, dan direkomendasikan konsumennya.
Seorang penasihat pun demikian. Ingin nasihatnya disimak, dipraktikkan,
ditularkan.
Kalau seorang marketer biasa
memulai ajakannya dengan melihat siapa yang jadi target ajakannya, lalu mencari
tahu karakteristik apa yang dimiliki orang-orang ini, apakah kita juga peduli
akan hal-hal itu sebelum menyampaikan nasihat kita? Atau kita memilih tidak
peduli dan asal-asalan saja? Pikirkan lagi.
Jika seorang marketer sempat
mencari tahu apa yang digandrungi oleh targetnya, apa yang sedang dianggap
penting oleh calon konsumennya, apakah kita juga memperhatikan hal yang sama? Apakah
kita juga meluangkan diri sekadar mencari informasi kondisi apa yang sedang
dialami target nasihat kita?
Kalau marketer bersusah payah
mempelajari gaya ajakan seperti apa yang cocok untuk target marketnya agar berpeluang tinggi membuat orang tertarik mencoba produk/ layanannya, apakah
kita juga sudah begitu? Apakah kita pernah memikirkan, bagaimana cara, kapan waktu,
dan apa media yang tepat untuk menyampaikan nasihat itu?
Jika marketer sampai seserius itu memikirkan sosok yang tepat untuk menyampaikan ajakannya, apakah kita pun sudah mempertimbangkan kualitas diri kita sendiri sebagai penyampai nasihat? Apakah kita yang awut-awutan cukup layak menasihati orang lain agar selalu tampil rapi?
Jika marketer banting tulang berusaha
membuat konsumen yang sudah mencicipi produk/layanannya jadi berlangganan,
apakah kita juga sudah melakukannya? Apakah kita sudah berusaha membuat orang
lain betah melakukan kebaikan yang kita nasihatkan? Apakah kita sudah memberi apresiasi yang pantas? Apakah orang itu mendapatkan apa yang kita janjikan di awal sebagai keuntungan/ manfaat jika menuruti apa yang kita nasihatkan? (Atau justru ada yang
kapok setelah sekali mengikuti nasihat kita?)
Jika marketer bisa customer
based oriented –berorientasi pada kepentingan konsumen—, jangan-jangan kegagalan
kita dalam menasihati cuma menunjukkan bahwa kita melakukan hal yang
sebaliknya. Jangan-jangan, saat kita melemparkan sebuah nasihat, yang penting
buat kita bukanlah perubahan orang yang sedang kita nasihati, melainkan diri
kita sendiri.
“Yang penting kita sudah
menasihati, bodo amat tanggapannya gimana”.
“Yang penting kita sudah
menggugurkan kewajiban kita, terserah orang lain berdosa karena enggak nurut sama nasihat
baik kita”.
Kita, jangan-jangan, tidak
benar-benar peduli pada orang lain. Kita, jangan-jangan, se-egois itu dalam
memberi nasihat.
Padahal, yang kita pasarkan adalah kebaikan. Kesalahan pemasarannya bisa berakibat fatal. Beberapa orang mungkin jadi alergi mendengar nasihat kebaikan dari kita. Tapi, ini belum seberapa. Yang kita khawatirkan adalah orang-orang menjadi alergi mendengar semua nasihat kebaikan, dari siapa pun 'marketer'nya. Mungkin sama, ya, seperti kita yang alergi bertemu marketing MLM. Padahal kita belum mendengar apa produknya dan bagaimana caranya bergabung, tapi reflek kita sudah pengen kabur duluan. π
Comments