Skip to main content

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya, "Nasihat Bersyarat" yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca?

Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya. Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:  jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti.

Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu baik?”

Nyatanya, tidak semua orang suka dinasihati atau mendengarkan nasihat. Kita sebagai sang penasihat bisa saja menuduh mereka-mereka yang ogah dinasihati sebagai orang sombong-tak tahu diri-cuek dan keras hati (baca dalam satu nafas, dan rasakan emosinya) πŸ˜†

Tapi…masa begitu? Masa sebagai orang yang bisa menasihati orang lain, kita hanya berakhir dengan memaki dan melabeli mereka-mereka yang tidak manut sama nasihat kita? Ayolah, kita bisa lebih dari itu...😘. Gimana kalau kita endapkan dulu rasa kesal ini, dan pikirkan ulang baik-baik?

Alih-alih bertanya mengapa orang lain tidak menuruti kita, mengapa orang lain tidak mendengarkan kita, mengapa orang lain mengabaikan nasihat kita, mungkin sebaiknya kita mulai membalik pertanyaannya. Jika yang kita katakan itu sebuah kebaikan, kenapa kita gagal membuat orang tertarik untuk mengikutinya? Jika yang kita nasihatkan adalah demi kebaikan orang itu, mengapa kita tidak mampu membuat orang itu sudi melakukannya demi kebaikannya sendiri?

Mungkinkan kita kurang ilmu? Sebab di antara banyak faktor kegagalan, kekurangan ilmu adalah koentji!

Bayangkan! Lha wong ‘cuma’ mengajak orang untuk mau beli pilus aja lho, ajakannya dikerjakan serius sama sebuah tim marketing communication yang profesional. Kadang-kadang sampai perlu tambahan visual yang mengundang selera. Njuk mosok mengajak orang jadi lebih baik, dan bersedia melakukan hal-hal baik, kita lakuin asal-asalan saja? Padahal sebiji sawi kebaikan seseorang jelas lebih mulia ketimbang bertruk-truk pilus sepabrik-pabriknya. 

Menasihati, bagaimana pun juga adalah aktivitas komunikasi persuasi. Sama-lah dengan marketing. Tujuannya mengajak orang lain melakukan tindakan yang kita inginkan. Seorang marketer ingin produknya dibeli, dipuji, dibanggakan, dan direkomendasikan konsumennya. Seorang penasihat pun demikian. Ingin nasihatnya disimak, dipraktikkan, ditularkan.

Kalau seorang marketer biasa memulai ajakannya dengan melihat siapa yang jadi target ajakannya, lalu mencari tahu karakteristik apa yang dimiliki orang-orang ini, apakah kita juga peduli akan hal-hal itu sebelum menyampaikan nasihat kita? Atau kita memilih tidak peduli dan asal-asalan saja? Pikirkan lagi.

Jika seorang marketer sempat mencari tahu apa yang digandrungi oleh targetnya, apa yang sedang dianggap penting oleh calon konsumennya, apakah kita juga memperhatikan hal yang sama? Apakah kita juga meluangkan diri sekadar mencari informasi kondisi apa yang sedang dialami target nasihat kita?

Kalau marketer bersusah payah mempelajari gaya ajakan seperti apa yang cocok untuk target marketnya agar berpeluang tinggi membuat orang tertarik mencoba produk/ layanannya, apakah kita juga sudah begitu? Apakah kita pernah memikirkan, bagaimana cara, kapan waktu, dan apa media yang tepat untuk menyampaikan nasihat itu? 

Jika marketer sampai seserius itu memikirkan sosok yang tepat untuk menyampaikan ajakannya, apakah kita pun sudah mempertimbangkan kualitas diri kita sendiri sebagai penyampai nasihat? Apakah kita yang awut-awutan cukup layak menasihati orang lain agar selalu tampil rapi? 

Jika marketer banting tulang berusaha membuat konsumen yang sudah mencicipi produk/layanannya jadi berlangganan, apakah kita juga sudah melakukannya? Apakah kita sudah berusaha membuat orang lain betah melakukan kebaikan yang kita nasihatkan? Apakah kita sudah memberi apresiasi yang pantas? Apakah orang itu mendapatkan apa yang kita janjikan di awal sebagai keuntungan/ manfaat jika menuruti apa yang kita nasihatkan? (Atau justru ada yang kapok setelah sekali mengikuti nasihat kita?)

Jika marketer bisa customer based oriented –berorientasi pada kepentingan konsumen—, jangan-jangan kegagalan kita dalam menasihati cuma menunjukkan bahwa kita melakukan hal yang sebaliknya. Jangan-jangan, saat kita melemparkan sebuah nasihat, yang penting buat kita bukanlah perubahan orang yang sedang kita nasihati, melainkan diri kita sendiri.

Yang penting kita sudah menasihati, bodo amat tanggapannya gimana”.

Yang penting kita sudah menggugurkan kewajiban kita, terserah orang lain berdosa karena enggak nurut sama nasihat baik kita”.

Kita, jangan-jangan, tidak benar-benar peduli pada orang lain. Kita, jangan-jangan, se-egois itu dalam memberi nasihat.

Padahal, yang kita pasarkan adalah kebaikan. Kesalahan pemasarannya bisa berakibat fatal. Beberapa orang mungkin jadi alergi mendengar nasihat kebaikan dari kita. Tapi, ini belum seberapa. Yang kita khawatirkan adalah orang-orang menjadi alergi mendengar semua nasihat kebaikan, dari siapa pun 'marketer'nya. Mungkin sama, ya, seperti kita yang alergi bertemu marketing MLM. Padahal kita belum mendengar apa produknya dan bagaimana caranya bergabung, tapi reflek kita sudah pengen kabur duluan. πŸ™ˆ

Marketing kebaikan itu memang kewajiban. Dan seperti kewajiban-kewajiban lain yang melekat pada diri kita, semua itu wajib diilmui. Huft! Jadi punya PR deh kitaaa.. . 😲😲

-SD

Comments

Popular posts from this blog

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik. Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!” , “Kayak hidup lo udah bener aja.” , atau “Tunjukin dulu lo sempurna!” . Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat,...

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

  Begitulah. Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis ...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!). Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan. Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat . Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi...