Skip to main content

Posts

Recent posts

(Nyaris) Nggak Punya Kenangan Masa SMA

Konon, masa SMA itu masa-masa yang paling indah. Banyak kenangan yang diingat, banyak kejadian yang tertinggal di memori. Sayangnya, itu tidak berlaku buatku. 😑 Semalam, grup teman SMA ramai karena ada yang share buku kenangan sewaktu kelulusan SMA. Excited? Tentu. Karena diriku ini bahkan tak ingat ada yang namanya buku kenangan.hahaha. Yang dilihat? Of course, muka sendiri dulu, temen sekelas, baru teman satu angkatan, lengkap dengan komentar "iihh apa siihh?" waktu liat bagian "pesan dan kesan" Nggak lama setelahnya, grup ramai dengan obrolan yang nostalgic, karena yang dibahas adalah kejadian-kejadian sewaktu SMA. Waktu diomelin kepala sekolah lah, waktu nge-demo guru, siapa yang suka telat, siapa yang suka main catur di kelas, dan siapa-melakukan-apa lainnya. Daaannn, sebagian besar dari kejadian itu tidak tersimpan di ingatanku. Wkwkwkw Yang terpikir saat membaca chat teman-teman adalah "Ohh, ada kejadian kaya gitu yaa di kelas dulu" atau "Baru...

Syukur Yang Ambisius

Kemarin, saya menemui salah satu teman baik saya. Sebut saja Kristin (nama sebenarnya)  hahaaa... Saya sengaja mengajak bertemu untuk  ngobrol  seputar dunia sekolah, terutama SMK. Baru-baru ini saya mengerjakan  project  untuk mengkoordinasi pelatihan guru-guru di berbagai jenjang sekolah. Pekerjaan sebagai EO bukan hal baru banget buat saya. Tapi, berhadapan dengan kepala sekolah dan para guru di dunia mereka, menimbulkan kecemasan tersendiri. Saya sudah terlalu jauh dengan dunia sekolah. Karenanya, saya takut "gap" sopan santun antara saya dengan dunia sekolah akan merusak keriangan kerja sama kami,  wkwkwk . Kayak  guyon , ya. Tapi  beneran  itu yang saya takutkan. Ya, begitulah latar belakang pertemuan kami. Selain membahas kecemasan saya yang malah  diketawain , tentu tidak afdol jika obrolan siang itu tidak dibumbui dengan cerita persoalan hidup –termasuk hidup orang lain—, bertukar penjelasan tentang sudut pandang kami masing...

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya,  "Nasihat Bersyarat"  yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca? Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya . Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:   jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti. Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu ba...

How Much do You Hate Smoke(r)?

  For me, quite a lot . Kata orang, kalau kita tidak suka sesuatu; bencilah tindakannya, bukan orang yang melakukannya. Memang benar begitu seharusnya. Tapi soal merokok dan perokok ini gimana yaa; they are inseparable .  Udah sejak dulu ku nggak suka dengan rokok dan berusaha menghindar dari asap rokok dan orang yang sedang merokok. Inget banget dulu pernah nylentik ( eh, apa pulak itu ya bahasa Indonesianya?) rokok punya teman, gara-gara merokok di dekatku. Nylentik  itu bahasa Jawa, semacam menjentikkan jari telunjuk dan jempol. Gitu lah ya. Nah sejak itu, si teman selalu jauh jauh kalau mau merokok. "Jangan ngerokok deket Wening, nanti diganggu". Gitu katanya. Pernah juga di sebuah angkot, sekitar lima tahun yang lalu, ku pura-pura batuk karena ada yang masuk ke angkot dalam kondisi merokok. Sengaja batuknya dikencengin supaya orangnya sadar bahwa asap rokoknya mengganggu. Daaan, berhasil. Si bapak pun membuang rokoknya. Segitu nggak sukanya memang, sama asap rokok....

Tentang Merasa (harus) Bersaing

Btw, grup chat kami bernama "Club 30", Iya, kami sudah menapaki bumi selama 30 tahun (++) *ternyata.   Dan kesadaran bahwa usia yang tidak lagi muda membuatku sadar bahwa mungkin tua kedewasaaan adalah salah satu alasan kenapa sekarang aku tidak mudah terintimidasi. Baik oleh atasan di tempat kerja, orang tua  atau orang lain yang lebih senior, achievement pribadi, kesuksesan/keberhasilan orang lain, dan banyak hal lain yang ternyata tidak terlalu berpengaruh seiring pendewasaan usia (iya bertumbuh menua).  Tentang bersaing, competition is not really my thing, karena bodoamat dan menjadi cuek adalah jalan ninjaku - bahkan sebelum membaca petuah Mark Manson, maka menghindari segala hal yang berbau kompetisi, lomba dan persaingan dalam segala hal sejak dini adalah pilihan terbijaksana saat itu - sampai sekarang. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan Dina tentu saja, well thats Us. Lelah nggak sih harus memenuhi target untuk lebih (baik) dari orang lain, kenapa kita nggak ...

"Trying to be Nice": Perlukah?

Beberapa bulan belakangan memikirkan ini, dan belum ketemu solusi tepatnya, so I'm just gonna share my thought here. Terkadang kita ketemu dengan orang-orang baru, teman, kolega, atau bahkan saudara baru; entah saudara jauh yang baru kenal, atau memang beneran saudara baru. Di antara mereka ini, pasti ada saatnya kita ketemu dengan sosok yang -berdasarkan feeling- tidak kita sukai.  Atau di situasi yang sebaliknya: berada di satu tempat bukan dengan orang baru, melainkan orang lama, yang sudah kenal sejak lama tapi jarang bertemu. Dan sialnya, sudah sejak kenal kita merasa ga suka dengan orang itu.  Dalam dua situasi di atas, rasanya pengen menghilang atau ber-disapparate; meminjam istilah JK Rowling di novelnya yang terkenal -Harry Potter-. Rasanya nggak pengen terlibat dengan percakapan dengan mereka. Dan kita pun tau, kita nggak punya cukup bahan untuk memanjangkan basa-basi. Can we just shut up and ignore them? Boleh nggak sih, kita bersikap seolah mereka ini tak ada, tanp...