Beberapa bulan belakangan memikirkan ini, dan belum ketemu solusi tepatnya, so I'm just gonna share my thought here.
Terkadang kita ketemu dengan orang-orang baru, teman, kolega, atau bahkan saudara baru; entah saudara jauh yang baru kenal, atau memang beneran saudara baru. Di antara mereka ini, pasti ada saatnya kita ketemu dengan sosok yang -berdasarkan feeling- tidak kita sukai.
Atau di situasi yang sebaliknya: berada di satu tempat bukan dengan orang baru, melainkan orang lama, yang sudah kenal sejak lama tapi jarang bertemu. Dan sialnya, sudah sejak kenal kita merasa ga suka dengan orang itu.
Dalam dua situasi di atas, rasanya pengen menghilang atau ber-disapparate; meminjam istilah JK Rowling di novelnya yang terkenal -Harry Potter-. Rasanya nggak pengen terlibat dengan percakapan dengan mereka. Dan kita pun tau, kita nggak punya cukup bahan untuk memanjangkan basa-basi. Can we just shut up and ignore them? Boleh nggak sih, kita bersikap seolah mereka ini tak ada, tanpa mencoba untuk menjadi "nice" dengan menyapa atau membuka percakapan? Yaa, kecuali kalau cuma senyum, itu sih gampang. To fake the smile, you know.HHH.
Mencoba menjadi nice, dan mengabaikan orang, dua duanya sudah pernah ku coba. Ada saatnya memang harus mengorbankan rasa kesel di hati dan berusaha ramah; misalnya, ketika itu berhubungan dengan urusan yang maslahatnya lebih besar. Contoh: menghadapi calon customer yang rewel; atau in my case, menghadapi wali murid atau murid yang kadang bikin emosi jiwa.
Tapi pernah juga, mempraktekkan sikap bodo amat, sama sekali nggak mencoba menjadi nice, kepada mereka yang masih terhitung teman, bahkan saudara, karena memang mereka melakukan sesuatu yang ku nggak suka dan mereka pun tidak mencoba bersikap ramah. Di situasi ini, biasanya ku pilih menjadi pendengar untuk percakapan yang sedang berlangsung, atau mencari hal lain untuk dikerjakan.
Sometimes I feel that it's unfair: "Kenapa ke temen atau sodara sendiri malah begitu?" Hahaha itulah yang membuat diri ini bertanya-tanya: Haruskah kita selalu try to be nice? Toh, nggak susah-susah amat sebenernya untuk menjadi ramah ke semua orang?
I don't know what people think about me but I'm not nice. I can't be nice or at least try to be nice at all times.
-Wen-
Comments
Pada prakteknya, untuk memutus komunikasi sosial dengan orang lain - bahkan saudara sendiri sebenarnya mudah. Seperti aku dan teman-teman lama kita, seberapa sering aku menghubungi duluan? never...haha, bukan sesuatu yang patut dibanggakan, makanya aku bahagia kalian masih ada sampai sekarang.
Tahu yang membuat orang bertahan untuk bersama? kesamaan kepentingan. Jadi kalau kepentingannya udah berbeda atau udah nggak ada, ya jalan sendiri-sendiri. Sowieso, mungkin orang-orang menyebalkan itu masih kamu butuhkan untuk kepentingan di masa depan, makanya masih harus dijaga dan disikapi dengan baik.
well, ada quotes bagus dari bukunya RJ Palacio - Wonder:
"When given the choice between being right and being kind, choose kind"
Well that's you Wen, a nice and kind person, template terlahir sebagai anak baik-baik - bahkan kamu yang iseng pun, tersangkanya tetep aku.
And as we know it... being kind and nice is a good thing indeed, but its hard to do it all the time, but you can always choose. Dan seperti layaknya orang yang sudah dikenal menjadi baik, berpura-pura menjadi tidak baik pun rasanya akan sulit diterima, pasti akan ada aja pembelaan pada saat mereka sedang tidak baik. Nggak semua orang sadar memiliki kesempatan untuk dikenal menjadi baik.
Perkara aslinya memang enggak baik pun, sebagai bagian dari netijen yang meminta orang-orang untuk tidak menjadi munafik/fake, ketika dihadapkan pada situasi yang membutuhkan kesopanan pasti menuntut akan orang lain untuk berlaku sewajarnya/senormalnya orang yang memiliki sopan santun.
-Tidak menjawab, but i don't do nice thing to people i don't like. Bad habits i know, tapiya gimana...kalau bawaanya ngajak emosi dan berdampak negatif. Dan sebagai orang dengan muka template jutek, cukup membantu mengeliminasi dengan sendirinya orang-orang yang bertahan ada di sekitarku...
Sejujurnya, kupikir tadinya ini tulisan Yayuk (>,<)
Defaultku kayaknya ga bisa kejam secara terbuka sama orang. Kalau secara terselubung, masih bisa diusahakan. Wkwkwkwk!
Aku sendiri rasanya jarang membenci orang. Jika ada orang yg perilakunya ga aku suka, asalkan itu bukan masalahku, aku cenderung abaikan urusan dia sebagai urusan-dia-yang-bukan-urusanku. Aku tetep berurusan secara normal, hanya aku tetapkan batas kehati-hatian yang lebih besar (menimbang track recordnya yang aku tahu kurang bagus, misalnya).
Terus, kalau orang ini udah tahap mengganggu aku, gimana? Ya kutanggepin sesuai keinginanku, hehehe. Aku inginnya apa? Aku ingin dia stop komentar? Aku ingin tidak berada di tempat yg sama dg dia? Aku ingin dia tidak mengganggu pekerjaanku? Aku ingin dia ga nawar-nawarin terus sesuatu yang ga kusuka? Aku ingin berhenti mendengar kritik? Atau apa? Aku akan menyesuaikan perilakuku sesuai hasil yang kuinginkan itu, dan itu ga selalu nice, yang penting efektif.
Tapi, sebagai orang yg akhir2 ini pegang role as customer service, ini emang rada rumit wkwkwk. Hal se-menyebalkan apapun harus kusikapi dengan baik atas nama produktivitas & repeat order (Hahaaa!!). Dalam hal ini, aku berlatih untuk menyadari, bahwa aku-bukanlah-aku. Jadi, ketika muncul tuntutan menyebalkan dari customer, aku sadar penuh bahwa itu bukan serangan personal. Sehingga, ya kutanggapi resmi sbg representatif organisasi. Customer nuntut macem2 itu ya boleh, tapi organisasiku punya rule itu juga boleh. So, aku merasa tugasku enggak nguras emosi lagi, tapi lebih ke mengkomunikasikan message organisasi. How to manage it nicely jadi lebih mudah karena aku ga ada personal issue sama keluhat2 customer. (nyambung rak sih komen2ku iki?)
Nah kan, Din, sometimes dilematis kan ya? Tapi kali ini aku emang perlu sih, belajar untuk trying to be nice kalau pas aku mau aja. Susah kaliii. #sambatbanget