Skip to main content

How Much do You Hate Smoke(r)?

 For me, quite a lot.

Kata orang, kalau kita tidak suka sesuatu; bencilah tindakannya, bukan orang yang melakukannya. Memang benar begitu seharusnya. Tapi soal merokok dan perokok ini gimana yaa; they are inseparable

Udah sejak dulu ku nggak suka dengan rokok dan berusaha menghindar dari asap rokok dan orang yang sedang merokok. Inget banget dulu pernah nylentik (eh, apa pulak itu ya bahasa Indonesianya?) rokok punya teman, gara-gara merokok di dekatku. Nylentik itu bahasa Jawa, semacam menjentikkan jari telunjuk dan jempol. Gitu lah ya. Nah sejak itu, si teman selalu jauh jauh kalau mau merokok. "Jangan ngerokok deket Wening, nanti diganggu". Gitu katanya.

Pernah juga di sebuah angkot, sekitar lima tahun yang lalu, ku pura-pura batuk karena ada yang masuk ke angkot dalam kondisi merokok. Sengaja batuknya dikencengin supaya orangnya sadar bahwa asap rokoknya mengganggu. Daaan, berhasil. Si bapak pun membuang rokoknya.

Segitu nggak sukanya memang, sama asap rokok. 

Dan sayangnya, ketidaksukaan pada asap rokok itu sering merembet pada pelakunya; tentu saja mereka yang terang-terangan merokok di tempat umum atau di dekat orang lain. Buatku, orang semacam ini egois sangat. Dia yang merokok, asapnya dia buang, lah kok kita yang disuruh menghirup asapnya yang bahaya itu, padahal perokok pasif lebih beresiko dibanding yang aktif merokok. Harusnya mereka nggak usah se-dermawan itu lah, kalau soal asap rokok. 

This is serious. Suaminya temen, bukan perokok aktif, pernah masuk rumah sakit, didiagnosis flek paru-paru. Beliau harus dirawat dua pekan dilanjutkan dengan rawat jalan sebelum akhirnya sembuh. Penyebabnya apa? Karena beliau bekerja di lingkungan yang mengharuskannya berinteraksi dengan para perokok aktif. Teman-temannya yang merokok, tapi dia yang sakit. Kejam kali.

Lebih menyebalkan lagi mereka yang dengan tenangnya bilang "Ngerokok atau nggak ngerokok ntar juga sama-sama mati", waktu dikasih paham bahwa merokok bisa menyebabkan berbagai penyakit berat. Baiklah. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu, tapi mbok ya jangan sampai membahayakan orang lain dengan rokokmu, pak.

Selain perokok di tempat umum dan perokok ngeyel, for me ada satu lagi jenis perokok yang menyebalkan: remaja yang memajang foto atau videonya saat sedang merokok; di media sosial. Beberapa bahkan mengunggahnya sebagai post, bukan status ataupun story. Media sosial lho, what's the point? Supaya orang tau mereka adalah perokok? Atau mungkin mereka merasa keren dengan itu? Aduh, itu sama sekali ngga keren, let me tell you. Lagipula, bukanlah itu akan jadi rekam jejak digital yang kurang bagus?

-------

Maksudku, merokok itu udah masuk kategori "negatif", tak usah lah diikuti dengan perilaku atau sikap negatif lainnya; misalnya dengan merokok di tempat umum, di depan atau di dekat mereka yang tidak merokok (sampai mereka bisa menghirup asap yang beracun itu), atau mengajak teman untu ikutan merokok. Itu hanya membuat(ku) semakin sulit membedakan sikap, untuk membenci hanya tindakannya saja, bukan orangnya; sebagaimana seharusnya.

-wen-

Comments

Popular posts from this blog

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik. Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!” , “Kayak hidup lo udah bener aja.” , atau “Tunjukin dulu lo sempurna!” . Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat,...

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya,  "Nasihat Bersyarat"  yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca? Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya . Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:   jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti. Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu ba...

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

  Begitulah. Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis ...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!). Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan. Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat . Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi...