Skip to main content

Salam Kenal

Berawal dari wacana, yang akhirnya terlaksana.

Selamat datang, selamat anda telah menemukan kami. Salam kenal dan terimakasih sudah mampir. 

Rasanya akan lebih elok kalau kami memulai record perjalanan ini dengan perkenalan (versiku tentu saja) biarkan Wening dan Dina memulai tulisan pertama dengan versi mereka masing-masing.

Berapa lama kami saling mengenal? jika dilihat dari usia kami saat lulus SMP pada tahun 2003 maka lebih dari setengah umur kami sekarang kami sudah saling mengenal. Perkara bersahabat nanti kapan-kapan kita bicarakan pada topik persahabatan, tidak sekarang.

Mereka adalah salah dua dari small innercircle yang kumiliki, entah karena terpaksa atau memang terkutuk untuk menjadi salah dua teman terdekat. Dari SMP- SMA- Kuliah hingga menjadi lajang ibukota, yang nggak kubayangkan sebelumnya ternyata teman ternyamanku adalah mereka yang jaraknya ribuan kilo,yang curhat onlen dan ketemu saja jarang, satu tahun sekali ketika mudik-itupun kalo sempet.

Serunya kami punya hobi berddebatdiskusi tentang banyak hal di grup chat dan untungnya kami punya Wening sebagai Mediator diantara aku yang Logis dan Dina yang Realistis (hasil personality test akan kita bahas lain waktu, tidak sekarang). Oh btw jurusan kuliah kami berbeda-beda, Akuntansi-Psikologi -Sastra (jurusan siapa- apa? nanti kita bahas juga tentang jurusan kuliah ini, tidak sekarang) mungkin itu salah satu faktor yang membuat kami saling melengkapi karena memiliki cara berfikir dan sudut pandang yang berbeda dalam menanggapi case yang sama.

Banyak yang bisa kupelajari dari berbagi keresahan dengan orang-orang yang tepat, rasanya sayang jika manfaat itu cuma buatku. Untuk itulah blog ini dibuat secara spontan ditengah hari di jam kerja yang menyesakkan oleh seorang budak korporat. Dan meskipun belum kami debatdiskusikan lebih lanjut isi dari blog ini, aku percaya bahwa kami bertiga bisa lebih bermanfaat dengan memanfaatkan laman ini. Percaya aja dulu, kalo manfaatnya bukan dariku pasti dari dua temanku.

Berapa banyak mereka yang hobi membaca memiliki hobi sepaket dengan menulis? semoga kalian yang membaca ini termasuk diantaranya, silahkan tinggalkan jejak digital dan laman blog kalian agar bisa kusambati.

Sampai bertemu di sambatanku berikutnya sahambat online. Semoga kebahagiaan menyertai kalian.

 

-Yyk-

Bogor, 01 Oktober 2020

 

PS. aku punya banyak epub novel setipe Stephen King & JD Robb dan series detective lainnya, barangkali kalian berminat


Comments

Popular posts from this blog

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik. Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!” , “Kayak hidup lo udah bener aja.” , atau “Tunjukin dulu lo sempurna!” . Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat,...

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya,  "Nasihat Bersyarat"  yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca? Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya . Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:   jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti. Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu ba...

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

  Begitulah. Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis ...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!). Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan. Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat . Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi...