Skip to main content

Syukur Yang Ambisius

Kemarin, saya menemui salah satu teman baik saya. Sebut saja Kristin (nama sebenarnya) hahaaa...

Saya sengaja mengajak bertemu untuk ngobrol seputar dunia sekolah, terutama SMK. Baru-baru ini saya mengerjakan project untuk mengkoordinasi pelatihan guru-guru di berbagai jenjang sekolah. Pekerjaan sebagai EO bukan hal baru banget buat saya. Tapi, berhadapan dengan kepala sekolah dan para guru di dunia mereka, menimbulkan kecemasan tersendiri. Saya sudah terlalu jauh dengan dunia sekolah. Karenanya, saya takut "gap" sopan santun antara saya dengan dunia sekolah akan merusak keriangan kerja sama kami, wkwkwk. Kayak guyon, ya. Tapi beneran itu yang saya takutkan.

Ya, begitulah latar belakang pertemuan kami.

Selain membahas kecemasan saya yang malah diketawain, tentu tidak afdol jika obrolan siang itu tidak dibumbui dengan cerita persoalan hidup –termasuk hidup orang lain—, bertukar penjelasan tentang sudut pandang kami masing-masing, lalu berusaha menarik kesimpulan-kesimpulan dari cerita & sudut pandang itu, yang lazimnya disebut "mengambil hikmah".

Nah... Hikmah inilah yang mau saya tuliskan untuk back up ingatan. Mungkin intronya kepanjangan, tetapi saya tidak akan minta maaf untuk itu. Lha wong memang saya pengennya begitu.

Syahdan, kami sampai pada suatu cerita tentang kemalangan seorang anak, tetangga teman saya. Kami jadi (lebih) menyadari bahwa hidup kami, sesusah-susahnya, masih lebih "beruntung" dibanding hidup anak itu. Teman saya bilang kalau nasib anak itu mengingatkannya untuk bersyukur. Saya juga.

Teman saya bilang, kadang-kadang dia merasa masih kepengen ini itu, merasa kurang ini itu, seperti orang yang kurang bersyukur. Setelah menyimak nasib anak tadi, dia menyesalinya. Kata-katanya ini saya cerna baik-baik. Lalu, sesuatu terlintas di pikiran saya.

Bukankah syukur itu seharusnya bukan akhir segalanya?

Apakah orang yang sudah bersyukur seharusnya ya sudah, diam saja. Kan sudah bersyukur...?? Bukankah tidak demikian? Apakah orang kalau sudah bersyukur itu lantas berhenti pada apapun itu yang sudah dia syukuri? Apakah orang dikatakan sudah bersyukur itu jika dia tidak lagi menginginkan hal lain, hal lebih?

Sepertinya, selama ini kita (kita?) terjebak di kubangan ini. Dan baru di siang itu, nyala di otak saya memberi signal kritis pada pemikiran ini. Sebelumnya saya tak pernah memikirkannya.

Saya mencoba menerangkan isi pikiran saya itu kepada teman di hadapan saya. Kalimat saya belibet. Banyak kalimat yang coba saya katakan hanya untuk menjelaskannya secara tepat, tapi...pokoknya ribet, lah. Lebih ringkas baca tulisan ini sekarang. Percayalah 😆

Setelah mengulur waktu berpikir dengan bergumam "Ehhmmm....." rada lama, akhirnya saya bisa menemukan kalimat yang tepat untuk dikatakan,

Intinya, aku mau bilang kalau kayaknya bersyukur itu tidak berarti dilarang ambisius, deh... .

 Yap. Itu dia!

Tindakan-tindakan yang kita pilih dan kita lakukan, adalah juga cara dan ekspresi bersyukur. Bersyukur seharusnya tidak hanya dalam hati, mengucapkan alhamdulillah, lalu ya sudah.

Dengan melihat nasib orang lain yang menurut kita tidak beruntung, apalagi kita akhirnya bisa berkontribusi membantunya, mungkin itu saatnya kita mengubah cara bersyukur kita. Bukan dengan berhenti menginginkan & berusaha lebih, melainkan sebaliknya. Setidaknya, ada dua alasan yang terpikirkan oleh saya siang itu, kenapa rasa syukur mestinya tidak membuat seseorang berhenti ambisius:

1) Kalau kita yang sekarang saja sudah bisa membantu orang-kurang-beruntung itu, berarti ada lebih banyak peluang untuk membantu orang-kurang-beruntung lainnya jika kita melebihkan usaha kita, melebihkan target-target kita, melebihkan capaian-capaian kita.

Saya tidak akan menyempitkan makna bantuan dan membantu di sini sebagai sedekah harta saja. Bantuan ini bisa dalam bentuk apapun, misalnya informasi, keterampilan, manajemen, koneksi, dan hal-hal intangible lainnya.

Jadi, ambisiusnya kita tidak perlu dimatikan. Arahnya saja yang mungkin perlu diluruskan. Alih-alih melenyapkan ambisi, mungkin bersyukur justru merupakan momentum untuk menjawab kembali pertanyaan dari diri sendiri: (1) Apa alasan ambisi kita? (2) Ke mana tujuan ambisi kita? (3) Bagaimana ambisi kita bisa membantu orang-kurang-beruntung seperti dia?


2) Karena kita punya kapasitas yang jauh lebih besar dibandingkan orang yang kita pandang kurang beruntung itu, maka sudah selayaknya juga kita melakukan hal-hal yang lebih, menargetkan hal-hal yang lebih, dan mencapai hal-hal yang lebih. Bukan begitu?

Ibarat bensin di tanki kita lebih banyak, bukankah sewajarnya kita berjalan, menargetkan, dan berusaha mencapai tujuan yang lebih jauh?

Mungkin pada kita Tuhan titipkan kapasitas IQ yang lebih baik, pengetahuan yang lebih luas, keterampilan yang (dianggap) lebih berharga, lingkaran pergaulan yang lebih subur untuk berkembang, kapasitas ekonomi yang lebih baik, bakat yang lebih menonjol, desire to achieve yang lebih besar, dan lain-lain. Lalu, apakah tidak terlalu absurd –dan hina— kalau kita justru malah berusaha sekadarnya, menginginkan seadanya, dan mencapai hal-hal yang ala kadarnya saja SECARA SENGAJA??

Kalau kata om-nya spiderman, "With great power, comes great responsibility".

Keberuntungan kita adalah kekuatan kita, dan karena itulah ada tanggung jawab yang mengikutinya. Rasanya tidak bijak buru-buru menghakimi ambisiusnya kita sebagai kurangnya rasa syukur. Umar bin Khattab kurang relijius dan beryukur apa, dan lihatlah bagaimana ambisiusnya dia memberi dampak besar pada masanya, dan dielu-elukan sampai sekarang.

Momentum bersyukur justru semestinya menjadi pengingat untuk mengembalikan kompas ambisi kita, untuk menjadikannya cara mensyukuri pemberian-Nya yang telah kita nikmati.

Gimana, menurutmu? Apakah pemikiran tentang syukur ini masuk akal, atau justru syukur yang (terlalu) ambisius?

Dengan terbitnya tulisan ini, saya mau menasihati diri saya sendiri: Hei! Bersyukurlah sembari ambisius! 😜

Sekian,

-SD


Comments

Bener banget. Kan kita bersyukur di satu hal. Sementara di hal lain masih harus berjuang ben iso bersyukur😁😁😁.
Nggak ding, tapi setauku memang bersyukur itu ada beberapa bentuknya, misalnya bersyukur dalam hati, diucapkan (kalau kita pake alhamdulillah), dan perbuatan. Nah, menjadi ambisius dengan tujuan yang lebih besar dan lebih baik itu termasuk yang ketiga berarti, to?
_sadina said…
Iya, menurutku gitu. Bersyukur dengan perbuatan tu ya jadinya melebihkan usaha & kapasitas hasil. Kalau syukur selalu diekspresikan dengan berhenti membuat progres, berhenti ambis, berhenti perfeksionis, malah gek gek kuwi dadi kufur nikmat haha

Popular posts from this blog

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik. Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!” , “Kayak hidup lo udah bener aja.” , atau “Tunjukin dulu lo sempurna!” . Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat,...

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya,  "Nasihat Bersyarat"  yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca? Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya . Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:   jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti. Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu ba...

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

  Begitulah. Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis ...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!). Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan. Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat . Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi...