Skip to main content

(Nyaris) Nggak Punya Kenangan Masa SMA

Konon, masa SMA itu masa-masa yang paling indah. Banyak kenangan yang diingat, banyak kejadian yang tertinggal di memori. Sayangnya, itu tidak berlaku buatku. 😑

Semalam, grup teman SMA ramai karena ada yang share buku kenangan sewaktu kelulusan SMA. Excited? Tentu. Karena diriku ini bahkan tak ingat ada yang namanya buku kenangan.hahaha. Yang dilihat? Of course, muka sendiri dulu, temen sekelas, baru teman satu angkatan, lengkap dengan komentar "iihh apa siihh?" waktu liat bagian "pesan dan kesan"

Nggak lama setelahnya, grup ramai dengan obrolan yang nostalgic, karena yang dibahas adalah kejadian-kejadian sewaktu SMA. Waktu diomelin kepala sekolah lah, waktu nge-demo guru, siapa yang suka telat, siapa yang suka main catur di kelas, dan siapa-melakukan-apa lainnya. Daaannn, sebagian besar dari kejadian itu tidak tersimpan di ingatanku. Wkwkwkw

Yang terpikir saat membaca chat teman-teman adalah "Ohh, ada kejadian kaya gitu yaa di kelas dulu" atau "Baru tau kalo dia orangnya kaya gitu". Sungguh mengenaskan yaa, ga punya memori tu? 😅

Nggak tersimpannya sebagian kejadian di SMA mungkin ada korelasinya dengan kondisi di waktu itu. Buat seorang anak sekolah yang merasa kurang percaya diri dan cuek (di kala itu) macam daku, rasanya masa SMA ga istimewa-istimewa amat. Katanya, kita akan lebih mengingat sesuatu ketika hal tersebut mempunyai makna khusus atau setidaknya berkesan. Dan biasanya, momen yang berkesan itu banyak berhubungan dengan apa yang kita lakukan bersama teman-teman; atau seberapa dekat hubungan kita dengan teman-teman itu. Berhubung aku tak banyak berinteraksi dengan teman-teman, mungkin itu kenapa ya, nggak banyak kejadian masa SMA yang ku ingat.

Jangankan dengan teman sekelas, dengan teman terdekat atau apa yang ku lakukan pun nggak banyak yang diingat. Why oh why?

Anyways, masa SMA tetap layak untuk dikenang sesekali. Lucky me, ada orang orang di sekitaran yang punya memori yang jauh lebih baik untuk bernostalgia dengan masa SMA, dan menertawakannya bersama-sama. Dulu, sempat merasa menyesal dan bertanya-tanya"ngapain ajaa guee waktu SMA, sampai segitunya nggak inget apa aja kejadian di masa itu", tetapi sekarang, everything feels better. Berdamai dengan masa lalu romannya memang benar benar menjadi tanda bahwa kita ada di fase kehidupan yang lebih baik. 

Cheers!

-wen-

Comments

_sadina said…
Well... Berdamai dengan masa lalu adalah tanda-tanda kita menyadari kita sudah tuwa, huwaaaa 😭😭

Btw, bisa jadi saat kita ga banyak punya kenangan tu karena kita ga memaknai momen yg kita lalui, kali ya. Analoginya, ketika kita memberi makna pada sebuah kejadian/ peristiwa/ tindakan, itu serupa memasang "pathok" di batas-batas momen itu, sehingga terciptalah sebuah wilayah "kenangan". Tanpa memaknai, tidak ada pathok, dan tidak ada wilayah kenangan. Kejadiannya ada. Tapi kenangannya tidak. Maybe.
Dee said…
Yang aku heran karena seharusnya "aku" juga ada di saat2 itu bersama kalian, kenapa aku juga nggak punya kenangan2 itu...

Popular posts from this blog

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik. Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!” , “Kayak hidup lo udah bener aja.” , atau “Tunjukin dulu lo sempurna!” . Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat,...

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya,  "Nasihat Bersyarat"  yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca? Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya . Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:   jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti. Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu ba...

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

  Begitulah. Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis ...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!). Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan. Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat . Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi...