Skip to main content

Nasihat, Bersyarat?

Siapa, sih, yang enggak tahu kalau nasihat itu baik? Nasihat adalah ajaran baik, atau anjuran kebaikan/ untuk lebih baik. Sampai sekarang, saya sendiri yakin ga ada nasihat berupa anjuran keburukan. Maka, keinginan menasihati yang muncul dalam diri manusia (kita) pun sejatinya karena kita yakin bahwa nasihat itu hal yang baik. Karenanya, memberi nasihat jelas adalah hal yang baiiik banget. Sampai-sampai dibuat jabatan penasihat. Tentulah itu jabatan yang tugasnya super baik.

Tapi, kenapa ya, enggak semua orang mau mendengarkan nasihat? Padahal kan nasihat itu pasti berisi kebaikan. Kenapa orang kadang-kadang enggan mengambil nasihat dan akhirnya menjadikan nasihat itu sia-sia belaka? Malah belakangan ini, orang yang (suka) memberi nasihat dicap mencampuri urusan orang lain. Sebagian lagi justru merespon nasihat dengan jengkel dan menimpali, “Sok suci!”, “Kayak hidup lo udah bener aja.”, atau “Tunjukin dulu lo sempurna!”.

Hmm… Benarkah menasihati itu membutuhkan syarat-syarat, sebagai berikut:

  • Suci tanpa sok;
  • Hidup ‘bener’ (abaikan dulu ‘bener’ menurut siapa);
  • Sudah sempurna tanpa cela
  • ….(tambahin apalagi, kek)

Waktu berpikir begini, saya tiba-tiba ingat surat Al Ashr, surat favorit bacaan salat (soalnya pendek banget). Allah berkirim surat kepada manusia yang isinya seperti ini:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, serta saling menasihati dalam kebenaran, dan menasihati dalam kesabaran”

Ah!

Allah sendiri justru menyuruh hamba-Nya untuk saling menasihati. Kalau begitu, syarat orang menasihati pada dasarnya cuma 1: enggak mau rugi 😜

Jadi, apakah orang yang memberikan nasihat itu harus memiliki syarat-syarat khusus seperti yang disebutkan orang yang jengkel dinasihati tadi?

Mungkin kajian yang pernah saya simak dari Ustaz Adi Hidayat bisa sedikit memberi kita pencerahan. Beliau bilang, perkataan itu ada 2 (dua) kategorinya. Pertama, ilmu. Kedua nasihat. Dalam hal ilmu, kita disuruh untuk mendengarkan orang-orang tertentu saja, yaitu orang yang ahli di bidang ilmu tersebut, pakar, dan memang punya pengetahuan hal ihwal ilmu/ permasalahan/ topik itu. Mendapatkan ilmu itu harus pilih-pilih sumbernya. Otomatis dalam hal perbincangan tentang topik-topik yang sifatnya “ilmu”, ga semua orang berhak bicara, dan ga semua orang layak didengarkan.

Jadi, kalau kita ingin paham tentang wabah, dengarkan Epidemiolog, bukan sipir penjara, penabuh kendang, penyanyi dangdut, atau pedagang, baik itu pedagang pasar tradisional, maupun pedagang pasar modal. Jangan! Eh, ya ada kecualinya, sih. Kecuali semua pekerjaan itu mereka lakukan hanya sebagai sampingan, karena aslinya mereka Epidemiolog *paansi 😒

Yang kedua, adalah nasihat. Beda banget dengan ilmu yang sumbernya harus tebang pilih, nasihat tidak. Nasihat harus diambil, tidak peduli datang dari siapa. Tidak peduli si pemberi nasihat adalah koruptor, tukang palak, calon lurah yang barusan gagal terpilih untuk ke-7 kalinya, penyanyi yang belum pernah launching album, atau orang yang menggelari dirinya sendiri sebagai pahlawan.

Huft! Berat, memang. Tapi itulah nasihat. Yang perlu kita ambil adalah nasihat (anjuran kebaikan)nya saja, terlepas dari siapa yang mengatakannya. Butuh hati yang lapang jika nasihat itu kita dengar dari orang yang menurut kita tak tepat. Misalnya kita dinasihati pejabat korup untuk senantiasa menjadi anak yang jujur (Yaa Allah…😩). Atau dinasihati senior di kantor untuk tepat waktu ngasih laporan, sementara dia sendiri kemarin baru dimaki-maki atasan karena telat kirim data untuk bahan bikin laporan. 

Begitulah. Sebagai pihak yang dinasihati, bisa jadi di situlah letak ujiannya; bagaimana kita bisa memisahkan nasihat dan sosok pemberi nasihat. Itu sulit? Banget!! Wajar. Namanya juga ujian. Kalau gampang, namanya dolanan 🙈

Apa yang dilakukan salah satu teman saya mungkin bisa jadi inspirasi kita. Jika mengalami situasi semacam itu, dia gemar sekali mengibaratkan nasihat seperti intan. Lalu dia akan mengingatkan dirinya sendiri dengan berkata bijak:

“Intan tetaplah intan meskipun keluar dari mulut seekor anjing”. 

Saat mengatakannya, dia tak pernah alpa memajang ekspresi mirip biksu yang baru mendapatkan pencerahan dalam pertapaan. Selalu, saya akan timpali pencerahan bijaknya dengan penyeimbang: “Dan anjing tetaplah anjing meskipun dari mulutnya keluar intan” (tentu saja, itu membuat momen bijaksana kami yang terjadinya cuma kadang-kadang jadi ambyar, wkwkwkwk...)

Oke, demikian refleksi sambat saya kali ini. Sampai jumpa lagi pada sambat-sambat berikutnya, ya. 

Dadah… 👋👋

*bagian kedua tulisan ini berjudul Marketing Kebaikan sudah bisa disimak.

-SD


Comments

"Pandang nasehatnya, jangan liat orangnya" itu berat lho, menurutku; terutama kalau kita tau latar belakang atau kondisi si pemberi nasehat. Misal seorang bapak perokok yang menasehati anaknya buat nggak ngerokok. It's like heloooo? Kalaupun si anak pada akhirnya gak ngerokok, most probably itu bukan karena nasehat bapaknya. I guess keteladanan adalah nasehat yang paling baik sih. Bukan berarti kita harus baik one hundred percent ya, untuk bisa kasih nasehat. Tapi setidaknya kita (?) sedang berproses ke arah nasehat yang kita berikan.
wahyu said…
Nasehat (bukan kritik dan saran)?,

Tentang pertanyaan "kenapa orang susah mendengar nasehat?"
Mungkin mereka tidak sedang mencari atau sedang tidak merasa butuh untuk menerima nasehat. Sesuatu yang nggak dicari walau adanya di depan mata, rasanya nggak akan butuh-butuh amat. *kayak cinta.
Ibarat ilmu atau skill atau pengetahuan atau sesuatu apalah yang sebenarnya perlu kita cari dan akan bermanfaat buat diri sendiri. Banyak, bertebaran, murah bahkan gratis tapi kalau tidak merasa butuh ya sepi peminat, padahal dibanyak ayat direminder dengan kalimat"...bagi kaum yang berfikir/supaya kamu berfikir" *karena mikir bikin repot (hah..gue dan sepinya peminat training).

Lalu mikir membuatku bertanya, apakah kritik dan saran itu bagian dari Nasehat?
Sebagai team para pencari nasehat (baik), aku merasa perlu bertanya, karena biasanya orang yang mengajukan kritik akan dituntut melampirkan saran/solusinya.
Apakah nasehat menjadi sepi peminat karena tidak memiliki solusi? nasehat ya sekedar nasehat, didengarkan syukur dicuekin ya monggo, kan cuma nasehat (NASEHAT... bukan kritik (-)). Pilihan ada di penerima dan pencari nasehat.
Sowieso, aku sendiri merasa masih butuh untuk lebih banyak mendengar dan mencari sebanyak mungkin nasehat-nasehat baik. Lebih baik mencari duluan sebelum kebanyakan dikritik, bukan begitu?

-YYk-
_sadina said…
Ih, aku baru bisa komen sekarang, masakk... *sad
@Wening: Yes, indeed! Memberi teladan adl cara paling berkelas buat menyampaikan nasihat. Jangan lupa untuk munculkan insight dari keteladanan yg sedang kita kerjakan juga, soalnya belum tentu pesannya nyampe wkwkwk. Aku baru2 ini unggah tulisan soal nasihat dari sudut pandang si penasihat.

@Yyk:Ah, good poin Yuk, bahwa org ga ambil nasihat karena ga ngerasa butuh. Saran & kritik sebenernya lebih tepat disebut feedback kali, ya, di mana nasihat itu salah satu "jenis" dari saran (?). Aku termasuk tim yg ga sepakat kalau kritik harus dilampiri saran/ solusi, sih. Kritik itu pesan bahwa sesuatu hal (masih) memiliki kekurangan, terlepas dari orang yg melihat kekurangan ini punya solusi atau tidak ttg cara mengatasinya. Kayak udah beda peran, gitu lho. Kalau bisa lakukan dua-duanya (kritik + saran) ya bagus. Kalau enggak, ya gapapa karena itu bukan kewajiban yang paketan, wkwkwk

Popular posts from this blog

Marketing Kebaikan

Sesungguhnya tulisan ini berkaitan erat dengan tulisan sebelumnya,  "Nasihat Bersyarat"  yang tayang beberapa pekan yang lalu. Sudah baca? Dua tulisan ini sebetulnya satu kesatuan. Di dalam folder penyimpanan saya, keduanya ada dalam satu file Ms. Word. Di bawah judul ‘Nasihat Yang Sia-Sia’ saya menulis rupa-rupa hal tentang nasihat yang selama ini bikin saya sambat mikir-mikir. Baru setengah jalan, tulisan itu sudah terasa memusingkan. Berantakan dan ga jelas juntrungnya . Saya kemudian ngeh, yang membuatnya berantakan tidak lain adalah sudut pandang yang campur aduk di sana. Maka, tadaaaa:   jadilah dua tulisan. “Nasihat, Bersyarat?” mewakili refleksi saya sebagai orang yang sering diberi nasihat. Sedangkan “Marketing Kebaikan” (tulisan ini) berisi cermin buat saya yang kerap spontan dan sok-sokan memberi nasihat. Kedua tulisan ini saya tinggalkan di sini buat ditilik lagi suatu saat nanti. Mengulang tulisan lalu, “Siapa sih, yang ga tahu kalau nasihat itu ba...

Tinimbang Sambat, Aluwung Nulis

  Begitulah. Akhirnya blog yang keberadaannya diwacanakan sejak boba masih bernama candil ini lahir juga. Di awal wacana, kami sempat (sok-sokan) brain storming soal nama blog. Ada banyak ide saat itu, mulai dari yang puitis, sastrawi, dramatis, optimis, ndremimis ...sampai kemudian, “Ya udah, lah. Terserah namanya apa.” karena jadi bingung sendiri. Usai mengumpulkan calon nama blog, kami semua bungkam. Tidak ada yang menindaklanjuti. Kami lupa kami ingin punya blog untuk sambat wadah pengembangan diri (*what?!). Kalau salah satu dari kami ingat lagi, maka pembahasan akan riuh lagi. Soal nama, soal bikin di platform apa, soal akan bikin pake email siapa, apakah harus akun baru atau lama, dan lain-lain. Sudah jadi kebiasaan, kami akan membiarkan semuanya tanpa kesimpulan, dan akhirnya...terlupakan. Beruntung! Di suatu siang yang tenang, Tuhan membuat Yayuk kebelet sambat . Maka, wacana yang lapuk itu kembali terangkat. Setelah saya beralasan ini itu yang intinya belum jadi...